Aplikasi Vibe Coding Gratis Untuk Orang Yang Tidak Bisa Coding
Vibe coding belakangan ini makin sering dibahas di dunia teknologi, terutama di kalangan developer dan kreator digital. Sederhananya, vibe coding adalah cara belajar dan menulis kode yang lebih menekankan alur, rasa nyaman, dan eksperimen, bukan cuma patuh pada aturan teknis yang kaku. Pendekatan ini mengajak orang untuk langsung mencoba, mengeksplorasi, dan menikmati proses saat membangun sesuatu, entah itu aplikasi, website, atau sekadar automasi sederhana.

Yang menarik, vibe coding nggak selalu menuntut kemampuan teknis tingkat tinggi. Konsep ini justru berkembang karena hadirnya berbagai tools modern yang bisa membantu menerjemahkan ide jadi kode. Fokusnya pun bergeser, dari yang awalnya harus paham detail sintaks, menjadi lebih ke “apa yang ingin dibuat”. Dengan pendekatan seperti ini, siapa pun punya kesempatan untuk mulai berkarya di dunia digital tanpa harus menguasai teori pemrograman sejak awal.
Pertanyaannya, apakah vibe coding bisa dilakukan oleh orang yang belum bisa koding sama sekali? Jawabannya bisa, meski tentu ada batasannya. Vibe coding bukan berarti menghilangkan logika pemrograman, tapi lebih ke menurunkan hambatan awal bagi pemula. Orang awam tetap bisa mulai dari nol dengan cara coba dulu, lihat hasilnya, lalu pelan-pelan memperbaiki. Seiring waktu, pemahaman dasar soal logika dan struktur kode biasanya akan terbentuk dengan sendirinya.
Baca juga: Cara Menggunakan Stable Diffusion di Android Gratis Tanpa Menggunakan PC Komputer
Untuk mendukung gaya belajar seperti ini, sekarang sudah banyak aplikasi dan layanan yang dirancang supaya belajar koding terasa lebih santai dan intuitif. Mulai dari platform berbasis AI, editor kode yang ramah pemula, sampai layanan pembelajaran interaktif yang langsung mengajak praktik. Di bagian selanjutnya, kita akan membahas beberapa aplikasi dan layanan yang cocok buat memulai perjalanan vibe coding, terutama buat pemula yang ingin belajar tanpa merasa terbebani.
Stitch - Design with AI
Stitch – Design with AI bisa dibilang sebagai contoh nyata bagaimana vibe coding ketemu langsung dengan dunia desain. Aplikasi ini memanfaatkan AI untuk membantu pengguna bikin tampilan antarmuka, layout, sampai konsep desain dengan cara yang cepat dan intuitif. Jadi, kamu nggak perlu mulai dari kanvas kosong atau mikirin detail teknis sejak awal, cukup fokus ke ide besarnya dulu.

Cara pakainya pun simpel. Pengguna tinggal memasukkan deskripsi atau gambaran ide, lalu Stitch akan menerjemahkannya menjadi desain visual yang bisa langsung dikembangkan. Pendekatan ini sejalan banget dengan vibe coding, karena alurnya terasa mengalir dan kreatif, tanpa bikin pengguna terjebak di teori atau aturan desain yang rumit.
Buat pemula atau orang yang belum terbiasa dengan koding dan UI/UX, Stitch jadi pintu masuk yang ramah. Tanpa harus paham teori desain yang kompleks atau nulis banyak kode, pengguna tetap bisa menghasilkan desain yang rapi dan fungsional. Proses belajarnya pun terasa lebih ringan dan menyenangkan, karena semua dilakukan sambil praktik. Stitch bukan cuma mempercepat proses desain, tapi juga membantu membangun rasa percaya diri buat mereka yang ingin masuk ke dunia pengembangan digital lewat pendekatan vibe coding.
Google AI Studio
Google AI Studio bisa dibilang sebagai tempat paling aman dan nyaman buat mulai kenalan dengan AI buatan Google, seperti Gemini. Platform ini berbasis web dan tampilannya cukup simpel, jadi pengguna bisa langsung menulis prompt, melihat respons AI, dan mencoba berbagai skenario tanpa harus bikin project koding yang ribet. Semuanya terasa lebih praktis dan to the point, cocok buat yang ingin langsung coba tanpa banyak persiapan.

Kalau dilihat dari sudut pandang vibe coding, Google AI Studio sangat mendukung proses belajar yang santai dan mengalir. Pengguna bisa fokus bereksperimen dengan ide, logika, dan cara berinteraksi dengan AI, tanpa harus pusing mikirin setup teknis di awal. Cukup coba, lihat hasilnya, lalu sesuaikan lagi sesuai kebutuhan.
Baca juga: Cara Bermain Game PS2 di Android dengan AetherSX2
Buat pemula atau orang yang belum bisa koding sama sekali, Google AI Studio berfungsi sebagai jembatan yang ramah. Dari sini, pengguna bisa pelan-pelan memahami cara kerja AI, bagaimana prompt memengaruhi output, dan bagaimana sebuah ide sederhana bisa berkembang jadi fitur yang lebih nyata. Seiring waktu, pengalaman ini bisa jadi bekal sebelum masuk ke tahap yang lebih teknis, seperti integrasi API atau pengembangan aplikasi. Intinya, Google AI Studio membantu membangun rasa nyaman dulu dengan prosesnya, yang jadi inti dari vibe coding.
Google Antigravity
Google Antigravity bisa dibilang sebagai salah satu eksperimen Google yang cukup “nyambung” dengan konsep vibe coding. Tujuannya sederhana: bantu pengguna mengubah ide menjadi aplikasi atau prototipe dengan cara yang lebih cepat dan nggak ribet. Jadi, kamu nggak perlu pusing dulu soal setup teknis atau konfigurasi yang panjang, cukup fokus ke apa yang ingin dibuat, lalu biarkan AI membantu menerjemahkannya ke bentuk yang lebih nyata.

Dengan dukungan AI generatif, Antigravity mendorong pengguna untuk langsung coba-coba dan bereksperimen. Prosesnya terasa lebih mengalir karena kamu bisa melihat hasilnya secara langsung, lalu menyesuaikan atau memperbaiki dari situ. Nggak harus langsung sempurna, yang penting jalan dulu dan pahami alurnya.

Dalam dunia vibe coding, pendekatan seperti ini bikin proses belajar koding jadi lebih ramah, terutama buat pemula atau kreator non-teknis. Pengguna nggak dituntut untuk jago koding sejak awal, tapi diajak memahami cara berpikir membangun aplikasi lewat eksplorasi. Antigravity seolah menegaskan bahwa masuk ke dunia koding bisa dimulai dari rasa penasaran dan kenyamanan, bukan dari tekanan harus langsung mahir.
Opencode
Opencode bisa dibilang sebagai salah satu tools yang cukup relevan dengan konsep vibe coding, terutama buat kamu yang suka belajar sambil langsung praktik. Opencode dirancang untuk membantu proses ngoding jadi lebih cepat dan fleksibel, dengan memanfaatkan bantuan AI langsung dari terminal atau editor.

Jadi alih-alih bolak-balik buka dokumentasi atau forum, kamu bisa langsung “ngobrol” dengan AI sambil ngoding, minta penjelasan, contoh kode, atau bahkan solusi dari error yang lagi muncul.
Yang bikin Opencode menarik, bahasanya nggak terasa kaku dan alurnya cukup natural buat pemula. Kamu nggak harus jago koding dulu untuk mulai pakai, karena Opencode lebih berperan sebagai teman bantu yang ngarahin langkah demi langkah.

Buat orang yang baru belajar, ini bikin proses ngoding terasa lebih santai dan nggak menakutkan. Sementara buat yang sudah terbiasa koding, Opencode bisa jadi alat pendukung yang bikin workflow lebih cepat dan tetap nyaman, sesuai dengan “vibe” ngoding yang lagi dicari.
Blackshores
Blackshores atau organisasi pantai hitam adalah salah satu web (localhost) yang saya buat atas dasar hobi, konsep dari Blackshores sendiri memiliki konsep seperti Myanimelist namun versi Webtoon (Manhwa/Manga/Manhua)
Saya sendiri menggunakan Monorepo/NextJS *jujur saya ga tau* dan menjalankan pada komputer secara lokal dengan Nodejs.
Baca juga: Tempat Baca Manga, Manhwa, dan Manhua Subtitle Indonesia Gratis dan Berbayar
Untuk mendapatkan data saya membuat sistem bernama Kapal API dimana berfungsi untuk scraping web *ehem* untuk mendapatkan informasi seperti cover, sinopsis, chapter terbaru, beserta data pendukung seperti popular page, lastest update, dan lain sebagainya.
Per artikel ini dibuat Kapal API memiliki 13 web sebagai sumber data utama, mungkin akan bertambah seiring berjalanya waktu mengingat untuk membuat database membutuhkan banyak sumber, target mungkin 50 web untuk tahun ini.
Sebagai catatan tambahan bahwa Blackshores berjalan lokal dan untuk digunakan secara pribadi dan tidak akan pernah dipublikasi.






Meski tujuan awal yakni membuat database Webtoon namun seiring berjalanya waktu saya menambahkan fitur yang mungkin sangat mlenceng dengan definisi database webtoon itu sendiri hahaha.
Dikarenakan sayang melihat token yang tersisa maka saya manfaatkan untuk membuat fitur seperti membuat akes IOT menggunakan Tuya sehingga saya misa kontrol secara penuh melalui API.
Belum berhenti sampai disitu saja saya bahkan membuat fitur pencatatan keuangan, cronjob untuk share gambar secara otomatis pada discord, Soundfly untuk memutar lagu pada web dan lain sebagainya.



Per artikel ini dibuat Blackshores telah dikembangkan selama lebih dari 30 hari, mungkin jika sudah mengetahui flow dan logic hanya membutuhkan waktu 1-3 hari saja kelar namun dikarenakan saya tidak memiliki pengalaman bahkan pengetahuan mengenai koding maka membutuhkan waktu 30 hari untuk membuat Blackshores
Baca juga: Tempat Nonton Anime Subtitle Indonesia Gratis dan Berbayar
Saya sendiri menggunakan Claude Opus 4.5 untuk backend dan Gemini 3 Pro untuk frontend, kelemahan jika tidak memiliki pengetahuan mengenai koding yakni menghabiskan banyak token untuk menyelesaikan masalah sepele.

Gambar diatas merupakan token yang saya bakar untuk mengembangkan Blackshores, perlu diketahui bahwa 80% Blackshores dibuild menggunakan Antigravity jadi gambar diatas hanyalah 20% usage atau bahkan bisa kurang.
Flow yang saya gunakan yakni:
1. Stitch untuk membuat design
2. Google AI Studio implementasi design (dulu belum kenal Antigravity)
3. Antigravity (adalah Google AI Studio tapi versi program dan lebih overpower)
4. Kemudian migrasi Opencode karena lebih powerfull
Saat ini saya menggunakan Opencode untuk berkomunikasi dengan model Claude dan Gemini, menggunakan IDE atau Antigravity untuk review & commit Github saja.
Oke mungkin itu saja pembahasan mengenai aplikasi, model, dan layanan untuk melakukan atau belajar vibe coding secara gratis untuk orang yang tidak bisa koding, sampai bertemu dikesempatan selanjutnya, saya wein, akhir kata sampai jumpa.

Posting Komentar
Tata Cara Berkomentar Dengan Benar
~ Menggunakan bahasa yang sopan dan benar
~ Dilarang menggunakan bahasa kotor
~ Dilarang menyertakan link aktif
~ Dilarang memancing keributan